Kamis, 05 Februari 2009

Perang Diponegoro (1825-1830)

Latar Belakang dan sebab-sebab umum

Perang Jawa sebenarnya disebabkan oleh ketidaksukaan para bangsawan kraton Yogyakarta terhadap campur tangan Belanda dalam negeri Yogyakarta yang kemudian meluas menjadi perlawanan rakyat. Mirip dengan Revolusi Amerika yang digerakkan oleh para tuan tanah dan mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat yang kemudian menjadi perlawanan besar.

Seperti kita ketahui menurut Perjanjian Giyanti (1750) bahwa Pangeran Mangkubhumi mendapat wilayah Mataram Barat-yang kemudian diberi nama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat- dan Pangeran Mangkubhumi menjadi raja dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Pada tahun 1792 Hamengkubuwono I meninggal dunia dan putranya yaitu Gusti Raden Mas Sundoro diangkat sebagai raja baru dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Hamengkubuwono II bermaksud mengadakan pemerintahan yang kuat di mana orang-orang muda yang berpandangan maju dan radikal duduk di dalamnya. Untuk itulah ia mengangkat tokoh-tokoh muda ke dalam pemerintahannya dan menyingkirkan tokoh-tokoh tua yang diangkat pada masa ayahnya berkuasa.

Tokoh-tokoh muda yang diangkat antara lain Raden Tumenggung Sumodiningrat (diangkat sebagai Wedana Lebet), Raden Rangga Prawirodirjo II (diangkat sebagai Bupati Amancanegara), dan Raden Adipati Danurejo II (Pepatih Dalem/Perdana Menteri).

Pengangkatan Danurejo II ini menimbulkan protes dari ibu suri Kangjeng Ratu Ageng yang menganggap Danurejo II sebagai orang yang culas dan mementingkan kepentingan duniawi, tetapi kekhawatiran ini tidak digubris oleh Hamengkubuwono II.

Karena merasa kecewa maka Ratu Ageng memilih untuk meninggalkan kraton dan tinggal di Pesanggrahan Tegalrejo bersama cicit kesayangannya Bendoro Pangeran Haryo Ontowiryo (kelak disebut Pangeran Diponegoro-cucu dari Hamengkubuwono II dan merupakan putra sulung dari putra mahkota Gusti Raden Mas Anom Suroyo).

Kekhawatiran Ratu Ageng ini terbukti pada saat Hamengkubuwono II menyadari bahwa Danurejo II membangun komunikasi dengan Gubernur Jenderal Daendels. Mereka berencana untuk menikam Yogyakarta dari belakang sehingga Belanda dapat mendominasi Yogyakarta. Tetapi usaha makar Danurejo II ini segera diketahui oleh sultan. Danurejo II segera dibunuh atas perintah sultan sendiri.

Pembunuhan atas Danurejo II ini membaut murka Daendels yang segera mengirimkan pasukan ke Yogyakarta.

Ketika pasukan Daendels yang berjumlah 10.000 itu sampai di daerah Sekaran wilayah Kertosono, mereka langsung dicegat oleh pasukan Yogyakarta yang dipimpin oleh Raden Tumenggung Sumodiningrat dan Raden Ronggo Prawirodirjo III. Karena kalah dalam persenjataan akhirnya pasukan Yogyakarta dapat dibereskan dan kedua panglima itu pun gugur.

Karena pasukan yang dibawa ini sangat besar maka Hamengkubuwono II bermaksud untuk berunding dengan Daendels di Kulon Progo. Daendels mendesak agar Hamengkubuwono II turun tahta atau Yogyakarta akan diserang habis-habisan. Akhirnya sultan bersedia mengalah.

Pada tanggal 17 Desember 1812 pasukan Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Daendels sendiri menduduki Yogyakarta. Hamengkubuwono II diturunkan dari tahtanya walaupun tetap diperbolehkan tinggal di kraton (kemudian mendapat gelar sebutan sebagai Sultan Sepuh). Putra mahkota Gusti Raden Mas Anom Suroyo dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono III.

Setelah diangkat sebaga sultan baru, Hamengkubuwono III menandatangani perjanjian yang didiktekan Daendels yang antara lain berisi :

  • Penghapusan pajak pantai yang harus dibayar Belanda kepada Kesultanan Yogyakrta.

  • Kesultanan Yogyakarta akan menyerahkan daerahnya di sebelah Barat Kedu dan Utara Gunung Merapi.

  • Membebaskan kewajiban bagi pembesar Belanda yang menghadap Sultan untuk :

    1. Membawakan nampan berisi sirih yang digunakan Sultan untuk nginang.

    2. Duduk bersila, menyembah dan melepas topi saat menghadap Sultan dan jika berhadapan dengan sultan pembesar Belanda cukup melepas topi memberikan salut militer, memakai topinya kembali kemudian tidak perlu bersila tetapi berdiri atau duduk di kursi

    3. Melepas sepatu saat mengunjungi kraton.

    4. Sri Sultan harus memanggil Gubernur Jenderal dengan sebutan eyang.

Sri Sultan Hamengkubuwono III yang dalam posisi lemah menerima saja isi perjanjian itu. Ini berakibat makin banyak pegawai pemerintahan kraton yang tidak percaya lagi pada sultan, sehingga kraton menjadi terpecah belah.

Pada tahun 1811 Daendels diberhentikan dari jabatannya dan digantikan oleh Jan Willem Jansens. Di saat yang bersamaan Inggris mulai menyerang Jawa dan akhirnya Belanda di Jawa menyerah dengan ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang.

Sultan Sepuh yang mendengar berita jatuhnya Belanda segera menyatakan bahwa segala perjanjian dengan Belanda tidak berlaku lagi. Sehingga pada awal tahun 1812, Sultan Sepuh menurunkan Hamengkubuwono III dari tahta dan mengangkat dirinya menjadi raja kembali dengan gelar Hamengkubuwono II dan Hamengkubuwono III tetap menduduki jabatan putra mahkota. Sultan kemudian menyatakan bahwa Yogyakarta adalah daerah yang merdeka secara de jure dan de facto.

Berita tentang kejadian di Yogyakarta ini sampai ke telinga Raffles. Kemudian dia menyampaikan bahwa perjanjian dengan Belanda masih berlaku dan Inggris adalah pihak yang menggantikan Belanda. Pernyataan Raffles ini tidak digubris oleh sultan.

Raffles segera memerintahkan Jenderal Robert Gillispie untuk menyerang Yogyakarta. Pertempuran pun pecah dan Yogyakarta dapat diduduki Inggris. Kemudian Hamengkubuwono II (Sultan Sepuh) ditangkap lalu diasingkan ke Penang (Malaya). Raffles menawarkan jika Sultan Sepuh tidak mau diasingkan maka harus membayar 400.000 keping emas, tetapi Sultan Sepuh lebih memilih diasingkan. Hamengkubuwono III diangkat kembali sebagai sultan dan harus menandatangani perjanjian sebagai berikut :

  • Hak untuk memungut pajak pasar dan bandar diserahkan kepada Inggris selama 10 tahun sebagai biaya ganti rugi perang

  • Hamengkubuwono III diangkat sebagai raja bawahan Inggris dan digaji sebesar 100.000 ringgit/tahun.

  • Kesultanan Yogyakarta harus menyerahkan separuh laba dari perdagangan kayu jati kepada Inggris.

  • Daerah Jipon, Japon, Kedu, Pacitan, dan Grobogan diserahkan pada Inggris.

  • Tentara Kesultanan dikurangi dan hanya boleh berkedudukan di Kota Yogyakarta saja.

  • Daerah luar kota Yogyakarta akan diamankan oleh pasukan polisi khusus (Jogokaryo) yang diambil dari rakyat Yogyakarta yang dilatih oleh Inggris.

  • Hukuman siksa dan adu macan dihapus.

  • Para bupati-bupati akan digaji dengan uang bukan dengan tanah bengkok.

  • Hamengkubuwono III harus memberikan keperluan logistik bagi tentara Inggris di Yogyakarta.

  • Orang Eropa di Yogyakarta tidak terkena hukum kraton tetapi terkena hukum Inggris.

  • Hamengkubuwono III harus menyerahkan 4000 cacah tanah kepada Bendoro Pangeran Haryo Notokusumo (putra ke-23 dari Sri Sultan Hamengkubuwono I). Daerah ini kemudian diberi nama Kadipaten Paku Alaman dan Notokusumo diberi gelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam I dan berkedudukan di Puro Pakualaman di sebelah timur laut Kraton.


Perjanjian ini membuat kewibawaan Hamengkubuwono III merosot dan membuatnya depresi sehingga pada 3 November 1814 beliau mangkat pada usia 43 tahun tanpa meninggalkan wasiat siapa yang akan jadi penerusnya.

Bendoro Pangeran Haryo Ontowiryo adalah salah satu calon kuat pengganti Hamengkubuwono III. Dia adalah putra tertua dari mendiang sultan, lahir pada tanggal 11 November 1785. Seperti telah disebutkan di atas, ketika masih kecil Ontowiryo sudah dibawa oleh Ratu Ageng ke Tegalrejo sehingga jauh dari kehidupan kraton. Ontowiryo juga terkenal merakyat dan anti terhadap Belanda maupun Inggris. Yang melemahkan kesempatan Ontowiryo menduduki tahta hanyalah karena dia anak selir.

Tetapi Inggris kemudian mencalonkan Gusti Raden Mas Ibnu Jarot (masih berusia 13 tahun) sebagai raja karena dengan alasan dia adalah anak sulung dari permaisuri mendiang sultan terdahulu.

Akhirnya Ibnu Jarot yang masih kecil itu naik tahta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono IV. Karena masih muda maka diangkatlah 4 orang dewan penasehat yaitu; Patih Danurejo IV, Raden Tumenggung Pringgodiningrat, Raden Tumenggung RonoDiningrat, dan Raden Tumenggung Mertonegoro. Karena 4 orang anggota dewan ini lebih memikirkan diri sendiri dan lebih sering berdebat, Sultan Hamengkubuwono IV juga malas mendengarkan mereka maka ia menjadi lebih dekat dengan kakak nya lain ibu yaitu Ontowiryo.

Karena dewan penasehat dinilai tidak memberi faedah maka Inggris atas usulan Danurejo IV membubarkan dewan ini dan mengangkat Paku Alam I sebagai wali sultan. Pengangkatan ini menambah rasa curiga Ontowiryo terhadap Paku Alam I karena dianggap dia adalah antek-antek Inggris.

Pada tahun 1816, Napoleon Bonaparte berhasil dikalahkan. Menurut Convention of London wilayah Eropa berikut wilayah jajahannya harus dikembalikan seperti semula sebelum Napoleon menjadi pemimpin Prancis (1795). Maka wilayah Nusantara juga akan diserahkan Inggris kepada Belanda secara bertahap.

Pasca perang Napoleon.

Belanda pasca perang Napoleon adalah negeri yang porak poranda dengan hutang yang menggelembung. Sehingga diharapkan dengan kembalinya tanah jajahannya kembali maka akan menjadi sumber pendapatan untuk menambal defisit anggaran Belanda.

Daerah Yogyakarta juga terkena imbasnya. Rakyat harus menanggung berbagai macam pajak seperti Pajak Pasar, Pajak Kepala, Pajak barang dagangan, cukai jalan, cukai jembatan, bea jalan tol dan kadang penarik bea yang tamak (kebanyakan orang pribumi sendiri) juga menghitung bayi yang digendong sebagai barang, maka harus dikenai pajak.

Ada lagi pajak khusus bagi bangsawan Jawa antara lain Bea Pecumpleng (pajak pintu rumah), Bea Pengawang-awang (pajak kebun taman rumah), Bea Pajigar (pajak hewan peliharaan), Bea Wilah Welit (pajak hasil panen), Bea Pajangket (pajak pindah rumah), Bea Kergaji (pajak rumah tangga yang dihitung dari jumlah istri, seorang bangsawan yang biasanya memiliki istri lebih dari satu tentu berat menanggun pajak ini).

Selain itu bagi rakyat jelata juga ada kewajiban untuk kerja paksa membangun jalan, gudang dan jembatan, kerja paksa membersihkan kantor, benteng dan rumah pembesar Belanda. Pemungutan pajak dan bea ini sejak jaman Raffles sudah diborongkan kepada orang Cina, terkadang orang-orang Cina itu sangat tamak dalam memungut pajak sehingga hal inilah yang menimbulkan ketidaksukaan pribumi pada etnis Cina.

Ketika Belanda mulai masuk, Kraton Yogyakarta sudah hampir mengalami kebangkrutan karena banyak derah penghasil keuntungan yang lepas. Karena itu lah sultan tidak mampu membayar gaji para bupati tepat waktu.

Maka untuk mencari penghasilan tambahan banyak bupati yang menyewakan tanah serta penduduknya pada pengusaha Eropa. Pengusaha Eropa yang menyewa tanah ini pun menerimanya dengan senang hati karena selain tanah yang luas mereka juga mendapatkan penduduk tanah itu untuk dijadikan pekerja murah dan tanah itu kemudian ditanami kopi, teh dan tanaman-tanaman lain yang laku di pasaran, perlahan tapi pasti geliat pertumbuhan para pengusaha swasta ini mampu memakmurkan kembali Yogyakarta (kebiasaan para bupati menyewakan tanah pada swasta ini kemudian ditiru oleh bangsawan kraton termasuk sultan Hamengkubuwono IV sendiri, bahkan kebiasaan ini kemudian ditiru oleh para bangsawan Kraton Surakarta).

Sementara itu Raja Willem I mendirikan Nederlande Handels Maatschappij (NHM) pada tahun 1824 yang merupakan perusahaan negara yang bergerak dalam segala bidang di tanah jajahan dan Raja Belanda adalah pemegang saham terbesar NHM. Tetapi NHM ternyata kalah bersaing dengan pengusaha-pengusaha swasta di Yogyakarta dan Surakarta yang menyewa tanah dari para bangsawan kraton. NHM pun rugi dan Raja Willem I sebagai pemegang saham terbesar terancam rugi besar pula.

Untuk mencegah kerugian NHM yang bertambah banyak, maka Gubernur Jenderal Van der Cappelen melarang para bangsawan dan pemilik tanah Yogyakarta untuk menyewakan tanah pada siapapun (kecuali atas izin Belanda). Van der Capellen beralasan bahwa sewa tanah itu sangat tidak berperikemanusiaan. Para bangsawan menyewakan tanah kepada pengusaha Eropa lengkap dengan penghuninya yang kemudian dijadikan buruh dan terkadang buruh itu diperlakukan secara tidak manusiawi oleh pengusaha Eropa. Alasan ini tidak sepenuhnya benar; karena sejak maraknya penyewaan tanah itu justru banyak rakyat kecil yang memperoleh pekerjaan tambahan sehingga memiliki penghasilan sampingan yang cukup lumayan.

Kebijakan larangan penyewaan tanah ini tentu saja merugikan banyak pihak. Para pengusaha swasta yang sudah mulai menikmati hasil investasinya terpaksa harus menghentikan usahanya dan mengembalikan tanah, rakyat kecil banyak yang kehilangan penghasilan tambahan dan yang paling dirugikan adalah para tuan tanah kraton. Mereka harus mengembalikan uang sewa ditambah bunga yang tinggi kepada pengusaha swasta yang menyewa tanah mereka. Tentu saja mereka tidak punya uang sehingga terpaksa mereka harus berhutang pada Belanda dan NHM.

Pada 27 Januari 1820, Sultan Hamengkubuwono IV genap berusia 19 tahun, maka Paku Alam I mengembalikan hak perwaliannya dan sejak saat itu Hamengkubuwono IV resmi memerintah Kesultanan Yogyakarta. Sementara itu, untuk memperluas pengaruhnya di Yogyakarta Belanda mulai mendekati sultan muda itu. Hamengkubuwono IV diberi pangkat Jenderal Majoor tentara Kerajaan Belanda, diberi bintang kehormatan, dan lain-lain. Lama kelamaan sultan jadi dekat dengan budaya Belanda, lebih sering keluar dengan pakaian militer Belanda, suka minum-minuman keras, gemar main perempuan, suka berburu dengan bedil dan lain-lain, kebiasaan sultan ini kemudian ditiru oleh semua bangsawan dan pembesar kesultanan. Sementara Sultan bersenang-senang dalam buaian, Belanda semakin menggerogoti Yogyakarta. Hal ini menambah ketidaksukaan Ontowiryo pada Belanda.

Pada tanggal 6 Desember 1822 Sri Sultan Hamengkubuwono IV wafat saat sedang berpesiar di atas perahu kerajaan. Ada desas-desus bahwa beliau diracun. Sultan meninggal pada usia 21 tahun tanpa menunjuk pengganti.

Dalam rapat internal Kraton disepakati bahwa BPH Ontowiryo harus menggantikan Sultan Hamengkubuwono IV dengan pertimbangan bahwa Ontowiryo adalah putra sulung Hamengkubuwono III dan kakak dari Hamengkubuwono IV, selain itu rakyat juga menghendaki Ontowiryo diangkat sebagai sultan karena beliau sangat dekat dengan rakyat, pertimbangan lain adalah saat itu putra sulung Hamengkubuwono IV Gusti Raden Mas Gathot Menol masih berusia 3 tahun. Tetapi masalah timbul saat dipertanyakan jika kelak Ontowiryo wafat siapakah yang akan menggantikannya? Anak keturunannya atau Gathot Menol. Kontroversi ini membuat suksesi menjadi berlarut-larut.

Belanda yang melihat kans Ontowiryo menduduki tahta cukup besar sangat khawatir. Hal ini dikarenakan Ontowiryo sangat anti Belanda. Maka kini Belanda campur tangan melalui Patih Danurejo IV dengan mengangkat Gathot Menol sebagai Hamengkubuwono V.

Pengangkatan ini menggemparkan seluruh kraton dan juga seluruh lapisan masyarakat karena dianggap Gathot Menol masih balita (Gathot Menol dilahirkan pada tahun 1820; sehingga ketika menjadi raja dia baru berusia 2 tahun).

Karena sultan masih balita maka diangkatlah Dewan Mangkubumi yang menjalankan tugas kenegaraan. Mereka adalah

  • Gusti Kanjeng Ratu Ageng (janda Hamengkubuwono III/ nenek sultan Hamengkubuwono V).

  • Gusti Kanjeng Ratu Kencana (janda Hamengkubuwono IV/ ibu kandung Hamengkubuwono V).

  • Pangeran Mangkubumi (Putra Hamengkubuwono II/sesepuh Kraton Yogyakarta).

  • Bendoro Pangeran Haryo Ontowiryo-kemudian diberi gelar Pangeran Diponegoro (paman sekaligus guru Sultan Hamengkubuwono V).

  • Patih Danurejo IV (Perdana Menteri Kasultanan Yogyakarta).

Dewan mangkubumi ini terpecah antara 2 golongan yaitu Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di satu pihak melawan Patih Danurejo IV yang merupakan kepanjangan tangan Belanda sedangkan 2 ibu suri hanya menjadi penonton saja.

Danurejo IV dengan dukungan Belanda berhasil mendominasi semua kebijakan kraton. Hal ini menimbulkan rasa muak pada Pangeran Diponegoro. Akhirnya pada akhir tahun 1824 Pangeran Diponegoro mundur dari Dewan Mangkubumi dan memilih keluar dari kraton untuk kemudian kembali menetap di Tegalrejo.

Di Tegalrejo Pangeran Diponegoro banyak memajukan irigasi, pertanian, melatih penduduk dengan olah keprajuritan dan yang paling penting membuka sekolah mengaji dan mengadakan kegiatan keilmuan dan keagamaan bagi rakyat kecil.

Sepeninggal Diponegoro dari kraton maka Danurejo IV semakin mendominasi pemerintahan kraton dengan mengatasnamakan sultan dan dengan bantuan Belanda.


Peristiwa Tegalrejo

Ketika pada awal mei tahun 1825 Belanda bermaksud membuat jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang. Proyek jalan itu kemudian dibelokaan ke Tegalrejo yang proyek jalan itu melintasi daerah makam leluhur Pangeran Diponegoro. Diponegoro meminta kepada pihak Belanda untuk membelokan proyek jalan itu agar tidak memotong daerah pemakaman leluhur Pangeran Diponegoro. Tetapi tidak ada jawaban dari pihak Belanda, keesokan harinya prajurit Kepatihan dari Kesatuan Bugis yang berseragam hitam tampak di daerah pemakaman leluhur Pangeran Diponegoro mereka memasang tiang-tiang patok yang menandai bahwa daerah itu akan dipakai untuk proyek jalan. Celakannya lagi pemasangan patok-patok itu disaksikan oleh beberapa birokrat Belanda.

Mendengar kejadian ini Pangeran Diponegoro marah besar dan sore harinya beliau bersama kira-kira 50 orang pengikutnya mencabut patok-patok itu.

Tindakan Diponegoro ini kemudian memancing kemarahan Residen Smissaert dan Danurejo IV sendiri. Residen Smissaert kemudian mengundang Pangeran Diponegoro untuk berunding di kantor karesidenan di Yogyakarta. Tetapi pangeran tidak memenuhi undangan itu dan hanya mengirim Pangeran Mangkubumi untuk mewakilinya. Pangeran Mangkubumi menyampaikan bahwa pada intinya Diponegoro meminta untuk dihentikan proyek pembuatan jalan yang melewati makam leluhur dan dia meminta untuk memecat Danurejo IV dan orang-orang yang memerintahkan pemasangan patok itu baik dia orang Belanda maupun orang Yogyakarta. Residen Smissaert menjawab bahwa dia tidak bisa mengambil keputusan selama Pangeran Diponegoro tidak mengatakan tuntutan secara langsung.

Residen kemudian mengirimkan undangan lagi kepada pangeran tetapi tidak ada jawaban. Karena takut terjadi apa-apa maka residen memerintahkan Asisten Residen Chevallier untuk menemui pangeran di Tegalrejo dengan membawa satu regu pasukan. Tetapi sementara itu Danurejo IV sudah memikirkan rencanannya sendiri.

Tanggal 20 Juli 1825 Danurejo IV merencanakan akan membunuh Diponegoro dan keluarganya dengan cara membakar pesanggrahan Tegalrejo sehingga Diponegoro dan keluarganya akan terbakar hidup-hidup. Sebelum rombongan asisten residen tiba Danurejo IV memerintahkan satu kesatuan pasukan kepatihan (Kesatuan Bugis-dengan senjata bedil dan pedang) untuk mengepung Pesanggrahan Tegalrejo. Rakyat di sekitar Pesanggrahan yang mengetahui tempat itu sudah dikepung merasa marah dengan tindakan Pasukan Bugis ini. Akhirnya dengan senjata ala kadarnya mulai dari batu sampai tombak dan panah rakyat mulai menyerang pasukan kepatihan itu. Diponegoro berusaha untuk melerai kerusuhan itu tetapi terlambat karena seluruh penduduk Tegalrejo sudah terlanjur emosi dan mengangkat senjatanya.

Sementara itu, rombongan Asisten Residen Chevallier sudah tiba dan melihat kerusuhan di Tegalrejo itu. Chevallier memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dan melaporkannya pada residen. Residen terkejut mendengar laporan Chevallier. Danurejo IV kemudian mengatakan pada residen bahwa dia mengirimkan prajurit kepatihan ke Tegalrejo untuk mengamankan patok-patok yang telah dipasang untuk proyek jalan tetapi malah diserang oleh penduduk, dan Danurejo IV mengatakan pada residen bahwa kemarahan rakyat ini pastilah karena provokasi Diponegoro, dan ini sudah menjadi cukup bukti bahwa Diponegoro berniat untuk memberontak. Maka Danurejo IV mengusulkan agar Diponegoro segera ditangkap.

Residen terpengaruh oleh hasutan Danurejo itu, maka dia memerintahkan untuk mengirimkan 75 orang pasukan senapan ke Tegalrejo dilengkapi sebuah meriam. Tugas mereka hanya 2 yaitu memadamkan kerusuhan dan menangkap Diponegoro.

Kerusuhan di Tegalrejo makin menjadi-jadi. Banyak penduduk yang terluka dan tidak sedikit pula pasukan kepatihan yang menjadi korban. Akhirnya menjelang sore pasukan Belanda sudah tiba di Tegalrejo dan segera menggabungkan diri dengan prajurit kepatihan. Tembakan meriam segera diarahkan ke arah pesanggrahan Tegalrejo. Tembakan meriam ini segera menyulut api dan pesaggrahan pun terbakar. Mengetahui rumah pangeran terbakar, perlawanan penduduk makin menjadi-jadi.

Mengetahui keadaan sudah semakin gawat maka Pangeran Diponegoro memerintahkan untuk menjebol tembok pagar sebelah Barat pesanggrahan dan dari tembok jebol itulah pangeran beserta keluarga dan pembantu dekatnya melarikan diri.

Sementara itu perlahan-lahan perlawanan rakyat Tegalrejo dapat diakhiri dan Belanda menduduki Pesanggrahan Tegalrejo yang sudah dilalap api itu. Tetapi Diponegoro sudah terlanjur melarikan diri. Akhirnya Belanda membakar rumah-rumah penduduk Tegalrejo untuk melampiaskan kekecewaannya.

Mulailah Perang Diponegoro.


Jalannya Perang Diponegoro

Pangeran Diponegoro lari menuju Kalisoko yang terletak 5 Km dari Kota Yogyakarta-tepatnya di Bantul-. Di Kalisoko ini Pangeran Diponegoro mulai menghimpun kekuatan. Banyak tokoh ulama seperti Kyai Mojo bergabung dengannnya bersama santri-santrinya. Bersama Diponegoro ikut juga Pangeran Mangkubumi. Mereka sangat sakit hati dengan Peristiwa Tegalrejo dan segera merencanakan perlawanan.

Pada awalnya bentuk pola serangan pasukan Diponegoro adalah gerilya dengan serangan mendadak. Malam hari pasukan Diponegoro masuk mengendap-endap ke Kota Yogyakarta melakukan teror lalu sebelum adzan subuh pasukan itu sudah meninggalkan Yogyakarta. Persenjataan mereka pun sederhana ada yang memakai lembing, panah, pedang, keris dan bahkan ada yang hanya memakai batu plus plintheng (ketapel mini) dan bahkan bambu runcing.

Lama kelamaan banyak orang yang bergabung dengan Diponegoro, bahkan 15 dari 19 orang pangeran Yogyakarta bergabung dengan pangeran. Kekuatan pangeran bertambah besar saat para bekas prajurit kraton yang dipecat oleh Sultan Hamengkubuwono III dalam rangka memenuhi perjanjian dengan Raffles ikut bergabung.

Markas Pangeran Diponegoro di Kalisoko itu akhirnya tercium juga oleh pihak Belanda dan daerah itu dikepung, tetapi ternyata sudah kosong.

Pangeran Diponegoro memindahkan kegiatannya di Gua Selarong. Gua Selarong terletak di sebelah Selatan Kota Yogyakarta tepatnya di Dusun Kentolan Lor, Guwosari, Pajangan, Bantul, daerahnya sangat strategis, berbukit-bukit dan tersembunyi sehingga mudah dipertahankan. Diponegoro menempati gua sebelah Barat yang disebut Gua Kakung, yang juga menjadi tempat beliau bertirakat. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Diponegoro) dan pengiringnya menempati Gua Putri. Di sebelah Timur.

Dari sini Pangeran Diponegoro menjalankan taktik gerilya terhadap kedudukan Belanda. Kerugian di pihak Belanda pun makin besar.

Di Gua Selarong inilah Pangeran Diponegoro memiliki jumlah pasukan yang sangat besar bahkan 3 kali lipat daripada kekuatan gabungan Surakarta-Yogyakarta-Mangkunegaran-Paku Alaman.

Untuk membereskan struktur komando maka Pangeran melakukan pembagian tugas yang sangat rapi. Struktur komando pasukan pangeran adalah seperti berikut



  1. Pangeran Joyokusumo (lebih dikenal dengan nama Gusti Bei)

Adalah seorang ahli strategi yang berpengalaman dalam perang Yogyakarta-Raffles. Dia diberi kedudukan sebagai penasehat militer Diponegoro. Selain itu juga bertanggung jawab memimpin perlawanan di Utara Jogja

  1. Pangeran Mangkubumi

Diangkat oleh Diponegoro sebagai pelindung keluarga istri dan keluarga para pemimpin perang dan kepala rumah tangga serta mengurusi bagian logistik.

  1. Kyai Mojo

Diangkat sebagai penasehat spiritual dan keagamaan serta panglima dari prajurit Santri.

  1. Alibasah Abdul Mustofa Prawirodirjo

Adalah seorang pemuda dari kalangan priyayi santri yang masih berusia 18 tahun yang kerap dipanggil Sentot Prawirodirjo. Dia dipercaya memimpin pasukan berkuda berjumlah 400 orang. Pasukan ini sangat istimewa karena memiliki kemampuan mengendalikan kuda ala Mataram yaitu dengan kedua lutut kaki sehingga kedua tangannya bebas memainkan senjata. Keahlian berkuda seperti ini sangat ditakuti oleh Belanda.

  1. Pangeran Anom Diponegoro dan Tumenggung Danukusumo

Bertanggung jawab atas perlwananan rakyat di Bagelen. Pangeran Anom Diponegoro adalah putra Pangeran Diponegoro.

  1. Pangeran Adiwionoto dan Pangeran Mangundipuro

Bertanggung jawab memimpin perlawanan di daerah Kedu.

  1. Pangeran Abu Bakar dan Tumenggung Joyomurtopo

Bertanggung jawab atas perlawanan di daerah Lawang.

  1. Pangeran Adisuryo dan Pangeran Suryonegoro

Memimpin perlawanan di daerah Kulon Progo.


  1. Tumenggung Cokronegoro

Memimpin perlawanan di daerah Gemblong, Godean.

  1. Tumenggung Surodilogo

Membantu Pangeran Joyokusumo (Gusti Bei) memimpin perlawanan di Utara Yogyakarta.

  1. Tumenggung Suryonegoro dan Tumenggung Suronegoro

Memimpin perlawanan di daerah Timur Yogyakarta.

  1. Joyonegoro, Pangeran Suryodiningrat dan Pangeran Joyowinoto

Bertanggung jawab untuk memimpin pasukan pertahanan Gua Selarong.

  1. Pangeran Singosari dan Warsokusumo

Bertanggung jawab memimpin perlwanan di Gunung Kidul.

  1. Mertoloyo, Pangeran Wiryokusumo, Sindurejo dan Dipodirjo

Bertanggung jawab memimpin perlawanan di daerah Pajang.

  1. Mangun Negoro (Bupati Madiun)

Memimpin perlawanan di Madiun, Magetan, Kediri, dan sekitarnya.

  1. Pangeran Serang

Memimpin perlawanan di Semarang.

  1. Raden Ajeng Kustiah Mulaningsih Retno Edi (Nyi Ageng Serang)

Memimpin perlawanan di daerah Purwodadi, Grobogan, Blora, Pati, dan Kudus.

Selain itu, Pangeran Diponegoro juga memimpin langsung pasukan yang jumlahnya cukup besar. Pasukan ini dibagi menjadi beberapa kesatuan seperti berikut ini.

Tiap kesatuan pasukan dipimpin oleh 1 orang panglima, 2 orang tumengung, 2 orang ulama, dan 1 orang sesepuh adat.

  • Satuan Bulkiya 400 orang

  • Satuan Penilik 150 orang

  • Satuan Suraja 150 orang

  • Satuan Mandang 100 orang

  • Satuan Mantrijero 40 orang

  • Satuan Suragama 20 orang

  • Satuan Suranata 20 orang

  • Satuan Barjumangah 40 orang

  • Satuan Jogosuro 40 orang

  • Satuan Jogokaryo 100 orang; pasukan ini di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi dan bertugas menjaga keselamatan keluarga para panglima perang.

  • Satuan Prawiro Tamtama 300 orang

  • Satuan Jayengan 80 orang

  • Satuan Wanengprang 40 orang

  • Satuan Turkiya 300 orang

  • Satuan Markiya 300 orang

  • Satuan berkuda Sentot Prawirodirjo berjumlah 400 orang.

  • Satuan Tamtama Jero pasukan cadangan yang jumlahnya lebih dari 1000 orang.

  • Satuan Kajineman adalah pasukan berani mati yang bertugas melakukan Sandi Yudha (spionase dan operasi-operasi rahasia) dan juga melakukan sabotase.

Pasukan Diponegoro selalu memakai strategi pemancingan dan menghindari peperangan frontal tetapi lebih suka memakai strategi gerilya. Pasukan Diponegoro ahli dalam mengintai dan mendekati sasaran tanpa menimbulkan suara dan memilih tempat yang baik untuk menyerang atau bertahan.

Dalam menyusun formasi mereka selalu berpencar dan membentuk jaringan formasi berbentuk lingkaran agar dapat mengikat lawan. Mereka sering kali melepaskan tembakan panah secara sembunyi-sembunyi ke segala penjuru sambil berlindung di pohon, alang-alang atau desa sekelilingnya. Mereka sering berteriak untuk mempertinggi moril, jika di gunung teriakan itu akan menggema sehingga menimbulkan kesan seolah jumlah mereka banyak.

Pasukan Diponegoro mampu berpencar untuk membuyarkan formasi lawan dan menyatu kembali dengan cepat untuk kemudian melakukan serangan terpusat ke lambung lawan yang sudah tidak dilindungioleh sayap pasukan.

Diponegoro selalu memancing lawan ke medan yang sulit. Mereka sering melakukan sabotase dengan menghancurkan jembatan, memblokade jalan atau bahkan melakukan aksi tembak sembunyi (sniper). Bahkan di dalam Satuan Kajineman pasukan Diponegoro terdapat suatu regu pasukan berani mati bernama “Barisan Sabil”. Sebelum berperang mereka selalu melumuri tubuhnya dengan minyak lalu membakar dirinya dan berlari ke arah tumpukan amunisi Belanda, sehingga meledaklah amunisi itu yang segera merontokan moril pasukan Belanda.

Karena rakyat banyak yang mendukung Diponegoro maka Belanda semakin kesulitan dalam memadamkan perlawanan pangeran yang satu ini.

Kemenangan-kemenangan terus menerus diraih Diponegoro. Tumpukan senjata rampasan berupa bedil dan meriam pun semakin banyak. Semakin banyak pula pasukan yang mengoperasikan kedua senjata modern itu.

Tetapi meriam dan bedil itu juga membutuhkan amunisi. Untuk memenuhi kebutuhan amunisi, mereka sering merampas dari pasukan Belanda yang mereka bunuh. Tetapi peluru hasil rampasan ini sangat terbatas sehingga harus digunakan secara hemat. Tetapi Gusti Bei kemudian mengusulkan agar dibangun pabrik amunisi sederhana di Desa Geger (Selatan Yogyakarta). Pabrik itu dapat memproduksi pelor dan peluru meriam walaupun kualitasnya masih kalah dengan bikinan Belanda.

Berita pemberontakan Diponegoro ini segera sampai ke telinga Gubernur Jenderal Van der Capellen. Gubernur Jenderal ini segera memerintahkan agar seluruh pasukan Belanda di Jawa dikonsentrasikan ke Yogyakarta, Surakarta dan sekitarnya. Sementara itu Belanda sendiri kekurangan pasukan karena harus memadamkan pemberontakan di Sulawesi dan Minangkabau. Jenderal Hendrik Markus de Kock diperintahkan untuk memimpin pasukan Belanda untuk melawan Diponegoro.

Langkah pertama De Kock adalah memperkuat pertahanan Kota Yogyakarta. Konsentrasi pasukan Belanda dipusatkan di Benteng Vredenburg. Sementara itu Pasukan Yogyakarta dan Legioen Pakoe Alaman (pasukan PakuAlaman) diminta untuk ikut membantu Belanda dalam mempertahankan kota. Tindakan lain adalah memindahkan Sri Sultan Hamengkubuwono V dari kraton ke Benteng Vredenburg untuk mencegah sultan yang masih kecil ini diculik, untuk keperluan itu di dalam benteng dibangun sebuah kediaman pribadi yang mewah. Benteng Vredenburg dipertahankan oleh 200 orang Belanda dan 500 orang pasukan Sumoatmojo (pengawal sultan Yogyakarta) ditambah 20 meriam.

Sementara itu Susuhunan Surakarta Paku Buwono VI dan Adipati Mangkunegoro III menyatakan bahwa Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran tidak akan ikut serta dalam pemberontakan Diponegoro. Dukungan juga diberikan oleh Adipati Sumenep bernama Paku Nataningrat yang juga bersedia mengirimkan pasukan Sumenep ke Jawa untuk membantu Belanda. Karena terharu oleh dukungan dari Sumenep ini maka Paku Nataningrat diangkat oleh Gubernur Jenderal Van der Capellen sebagai Sultan Madura.

Pihak Belanda akhirnya dapat mengendus keberadaan Diponegoro di Gua Selarong.

Akhirnya Gua Selarong dihujani tembakan meriam dan diserang secara sporadis, tetapi dengan kecerdikannya Pangeran Diponegoro mundur dan memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan Gua Selarong sehingga terlihat bahwa sebelumnya memang tidak ada aktivitas di gua itu. Belanda akhirnya dapat menguasai Gua Selarong.

Tetapi ketika Belanda meninggalkannya Diponegoro menempati kembali gua itu.

Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati Dipoengoro menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba Belanda akan menghentikan ofensif dan melakukan strategi defensif, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak" melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika musim penghujan, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.

Belanda mulai pusing dengan perang gerilya yang dilakukan Pangeran Diponegoro. Akhirnya dilakukan pendekatan kekeluargaan dengan Diponegoro. Belanda mengangkat kembali kakek Pangeran Diponegoro yaitu Sultan Sepuh (Hamengkubuwono II) sebagai sultan Yogyakarta, sultan dibebaskan dari pembuangannya di Penang. Beliau diangkat kembali pada tahun 1826. Sultan Sepuh diminta Belanda agar mau mengajak Diponegoro berunding tetapi. Ajakan ini kemudian ditolak oleh Diponegoro. Akhirnya pada 1828 Sultan Sepuh diturunkan lagi dari tahtanya karena pertimbangan kesehatan dan meninggal pada tahun itu juga.

Peperangan pun terus berkecamuk, pertengahan tahun 1826, Belanda mengirimkan pasukan dari Semarang yang dipimpin oleh Kapten Keemsius. Tetapi pasukan ini disergap dan dihancurkan oleh pasukan Diponegoro pimpinan Mulyosentiko di daerah Gagarak (daerah antara Yogya-Magelang).

Untuk membuktikan kesungguhannya membantu Belanda, Adipati Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegoro III mengirimkan pasukan Legioen Mangkunegaran dalam jumlah besar (3000 orang) yang dipimpin oleh Raden Mas Suwongso. Tetapi pasukan ini dapat disergap dan dihancurkan oleh pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Tumenggung Surorejo di Randugunting (daerah Kalasan). Suwongso dapat ditangkap dan dibawa ke Selarong. Kemudian Suwongso dibebaskan.

Sementara itu, Bupati Kedu Tumenggung Danunigrat bermaksud untuk memimpin pasukannya menyerang Diponegoro karena bermaksud mengambil hati Belanda. Akhirnya pasukan gabungan Kedu-Belanda ini menantang Diponegoro. Pasukan gabungan ini berjumlah 2000 orang dan bergerak menuju Selarong. Di tengah jalan. Untuk mencegat pasukan ini ditugaskan Tumenggung Secodiningrat dan Tumenggung Kertonegoro. Karena pasukan Kedu-Belanda lebih besar maka pasukan yang dipimpin kedua tumenggung inipun terdesak dan mundur, akhirnya mereka meminta bantuan ke Selarong. Kemudian Pangeran Diponegoro mengirimkan 400 orang prajurit Bulkiya yang dipimpin oleh Haji Usman Ali Basyah dan Haji Abdul Kadir. Pasukan Bulkiya kemudian bergabung dengan pasukan Secodiningrat dan Kertonegoro lalu kembali mengadakan serangan melawan pasukan Kedu-Belanda. Dalam pertempuran sengit pasukan Diponegoro mendapat kemenangan dan banyak senjata dirampas. Bupati Kedu Tumenggung Kertodiningrat dan pembantunya Tumenngung Danunigrat dapat dibunuh.

Untuk mengimbangi strategi gerilya Pangeran Diponegoro maka Belanda membentuk pasukan Kontra Gerilya yang direkrut dari orang-orang pribumi yang dianggap lebih mengenal medan. Mereka dibayar sama dengan gaji pasukan Belanda berpangkat letnan.

Pasukan Kontra Gerilya yang dipimpin oleh seorang Belanda bernama Kolonel Van Jett ini lama kelamaan berhasil mengepung daerah Gua Selarong, karena merasa terkepung Pangeran Diponegoro memutuskan untuk meninggalkan Gua Selarong.

Setelah Belanda mampu menguasai Gua Selarong, mereka mendirikan tangsi militer di situ untuk mencegah Pangeran Diponegoro menggunakan kembali gua bermedan berat itu. Tampaknya Belanda tidak ingin mengulangi kesalahan di masa lalu.

Setelah meninggalkan Selarong, Diponegoro memindahkan pusat perlawanannya di Dekso di Kabupaten Kulon Progo. Daerah ini terletak di sebelah Barat Laut Yogyakarta. Di sini atas usulan Kyai Mojo, Pangeran Diponegoro harus diangkat menjadi raja Jawa yang baru. Kyai Mojo mendasarkan usulannya ini karena menilai 4 raja Jawa yang lain (Sri Susuhunan Pakubuwono VI, Sri Sultan Hamengkubuwono V, KGPAA Mangkunegoro III, dan KGPAA Paku Alam I) telah menjadi antek-antek Belanda sehingga mereka sudah tidak layak untuk menduduki tahta. Semua pengikut Pangeran Diponegoro setuju dengan pendapat Kyai Mojo ini.

Akhirnya di Dekso Pangeran Diponegoro diangkat sebagai raja dengan gelar Sultan Abdulhamid Erucokro Amirulmukminin Sayidin Panotogomo Kalifatullah Ing Tanah Jawa. Selain sebagai raja Pangeran Diponegoro juga diangkat sebagai kepala agama Islam dan pelindung semua agama. Kyai Mojo diangkat sebagai patih sekaligus penasehat raja, Sentot dan Prawirokusumo diangkat sebagai Senopati dan Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Karto Pengalasan (setingkat dengan Pangdam Jaya saat ini-pen). Diangkatnya Pangeran Diponegoro ini membuat para pamong praja yang bekerja pada Kraton Yogyakarta dan Surakarta berhenti dari jabatannya dan lebih memilih bekerja di bawah Pangeran Diponegoro.

Ketika Pangeran Diponegoro mengangkat dirinya sebagai raja dia melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :

  • Pasukan kavaleri berkuda Sentot yang berjumlah 400 orang itu akan ditambah dengan 600 orang pasukan infantri-sehingga genap 1000 orang-. Pasukan yang dipimpin Sentot ini akan disebut sebagai Satuan Pinilih.

  • Dibentuk satuan Prajurit Suroyo dengan kekuatan 300 orang yang dipimpin oleh Abu Sungeb.

  • Satuan Bulkiya diperbesar jumlahnya dari mulanya 400 orang dirubah menjadi 713 orang dan akan dipimpin oleh Haji Muhamad Usman, Aliyabsyah, dan Haji Abdul Kadir.

  • Dibentuk pasukan baru bernama Suryogama berjumlah 300 orang yang dipimpin oleh Dullah Haji Baharudin.

  • Dibentuk pasukan Mundungan berjumlah 100 orang, dipimpin oleh Tumenggung Mertoloyo.

  • Pasukan Mantrijero diperbesar dari semula 40 orang menjadi 400 orang yang dipimpin oleh Tumenggung Puthut Lowo.

  • Dibentuk pasukan Barjumat dengan kekuatan 800 orang yang dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro.

  • Tumenggung Joyonegoro diangkat sebagai panglima perang di Jogja Selatan dengan kekuatan 1000 pasukan.

  • Syekh Haji Muda dan Raden Reksokusumo diangkat sebagai panglima yang bertanggung jawab atas keamanan makam leluhur Mataram di Imogiri.

  • Tumenggung Karto Pengalasan, Haji Ningso dan Haji Ibrahim beserta pasukannya dikirim ke Kali Progo untuk mengacaukan jalur Barat Yogyakarta.

  • Tumenggung Suronegoro dan pasukannya dikirim ke perbatasan Surakarta-Yogyakarta.

  • Raden Joyo Petono diperintahkan mengamankan Purbolinggo dan Muntilan.

  • Pangeran Ontowiryo (putra Diponegoro), beserta 9 kyai dan 10 tumenggung diperintahkan memimpin perlawanan di Bagelen.


Dari Dekso pasukan Diponegoro kembali melakukan gerilya habis-habisan melawan Belanda.

Pada awal tahun 1826, Diponegoro menganggap bahwa Dekso tidak layak menjadi ibukota kerajaannya sehingga dia mempertimbangkan untuk memilih sebuah kota sebagai ibukotannya. Pilihan jatuh pada Kota Plered. Plered adalah bekas ibukota Kerajaan Mataram. Plered berhasil diduduki tanpa perlawanan dari prajurit Kraton yang menjagannya. Akhirnya Plered dijadikan ibukota bagi Kerajaan Diponegoro.

Sementara itu pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Pangeran Singosari yang berkedudukan di Gunung Kidul diserang oleh Belanda. Pangeran Singosati mundur sampai Imogiri, kemudian menggabungkan diri dengan prajurit Bulkiya pimpinan Haji Usman Ali Basyah. Akhirnya pasukan gabungan ini menyerang Gunung Kidul dan merebutnya dari tangan Belanda.

Di daerah lain pasukan Belanda yang berkedudukan di Prambanan berhasil dikepung dan dihancurkan oleh Tumenngung Suronegoro.

Pada 16 April 1826 Belanda mengadakan serangan gabungan atas Plered dengan mengerahkan Pasukan Wirobrojo (Yogyakarta), Jayengastro (Surakarta), Legioen Paku Alaman, Legioen Mangkunegaran, Pasukan Kontra Gerilya dan pasukan meriam Belanda. Dalam pertempuran habis-habisan ini Plered hampir rata dengan tanah dan korban banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. Serangan Belanda ini dapat digagalkan

Tetapi sebelum Plered jatuh, Diponegoro dan sebagian besar pasukannya dapat melarikan diri. Akhirnya Plered pun jatuh.

Setelah menguasai Plered, pasukan gabungan Belanda segera bergerak menuju Dekso untuk mencegat Diponegoro di sana. Belanda yakin bahwa Diponegoro pasti lari ke sana. Tetapi gerakan pasukan gabungan ini dapat dibaca oleh Diponegoro, maka dia tidak kembali ke Dekso tetapi menghadang pasukan gabungan itu di tengah hutan.

Sesampainya di Dekso, ditemui bahwa daerah itu telah kosong. Karena sudah kelelahan maka Pasukan gabungan Belanda itu kembali ke Yogyakarta. Dalam perjalanan pulang pasukan itu disergap pasukan Diponegoro di tengah hutan, dan hampir binasa seluruhnya.

Dengan hancurnya pasukan gabungan itu maka praktis Kota Yogyakarta hanya dipertahankan oleh prajurit Kraton Yogyakarta dan Legioen Paku Alaman.

Diponegoro dan pasukannya kemudian mengadakan serangan besar ke Yogyakarta. Pasukan ini membinasakan Legioen Paku Alaman dan mengepung Kraton. Akhirnya Belanda mendatangkan bantuan dari Magelang. Pasukan Diponegoro berhasil didesak ke Timur dan akhirnya melarikan diri ke Gawok.

Sesampainya di Gawok, Diponegoro mendirikan markas barunya di sana. Di tempat inilah Raja Surakarta Sri Susuhunan Paku Buwono VI menemui Pangeran Diponegoro secara sembunyi-sembunyi. Tidak diketahui apakah yang mereka bicarakan. Di sinilah timbul kontroversi, walaupun Paku Buwono VI menemui Pangeran Diponegoro dan mengetahui letak persembunyian Diponegoro di Gawok tetapi tetap saja pasukan Kraton Surakarta bertempur untuk Belanda walaupun Susuhunan Surakarta itu tidak membocorkan kepada Belanda lokasi persembunyian pangeran itu.

Plered kembali ke tangan Diponegoro...!!!

Pada bulan agustus 1826 Belanda mengirim pasukan dari Solok untuk merebut Delanggu. Delanggu merupakan gudang beras yang sangat besar sehingga harus direbut. Tanpa disadari pasukan Belanda ini sudah dikuntit oleh pasukan Pinilih pimpinan Sentot sudah sejak dari daerah Srowot. Sementara itu pasukan Barjumat di bawah pimpinan Diponegoro sendiri sudah menunggu di Delanggu. Akhirnya pada 28 Agustus 1826 terjadi pertempuran besar di Delanggu di mana pasukan Belanda berhasil dihancurkan. Setelah berhasil mengamankan Delanggu pasukan Diponegoro-Sentot bergerak ke arah Kartosuro sehingga mengancam Surakarta.

Sementara itu Kyai Kasan Basri memimpin pasukan untuk mengamankan Gawok.

Sementara itu pada tanggal 30 Juli 1826, pasukan gabungan Belanda dan Yogyakarta menyerang Desa Ngalengkong. Pasukan gabungan ini berhasil dihancurkan oleh pasukan Diponegoro. Seorang letnan Belanda tewas dan 2 pangeran pimpinan pasukan Yogyakarta yaitu Pangeran Musdaningrat dan Pangeran Panular juga terbunuh oleh pasukan Diponegoro. Kemenangan di Ngalengkong ini adalah kemenangan terbesar pasukan Diponegoro sampai saat itu.


Tetapi pada Oktober 1826 dilancarkan serangan gabungan kembali ke Gawok. Pasukan ini terdiri dari Pasukan artileri dan kavaleri Belanda, pasukan konra Gerilya, Pasukan Surakarta, dan Legioen Mangkunegaran. Pasukan ini berjumlah 4000 orang, sementara pasukan Diponegoro di Gawok berkekuatan 6000 orang. Sementara itu terjadi perpecahan di tubuh para panglima-panglima Diponegoro. Kyai Mojo menghendaki agar Belanda, Surakarta, dan Mangkunegaran disambut dengan serangan gerilya pertimbangan Kyai Mojo ini karena daerah Gawok medannya sangat mendukung untuk gerilya dan memang itulah doktrin pasukan sejak dimulainya perlawanan. Tetapi sebagian besar senopati menghendaki agar serangan dilakukan secara frontal dengan pertimbangan bahwa serangan gerilya hanya dilakukan jika jumlah musuh lebih besar, tetapi di Gawok jumlah pasukan Diponegoro lebih besar daripada pasukan Belanda, selain itu kemenangan dari perang frontal lebih harum daripada kemenangan perang gerilya. Perbedaan pendapat ini membuat Kyai Mojo dijauhi oleh para pemimpin-pemimpin yang lain termasuk Diponegoro yang menilai Kyai Mojo terlalu keras kepala.

Pertempuran sengit terjadi tanggal 15 Oktober 1826, korban berjatuhan dan bahkan Pangeran Diponegoro memperoleh luka-luka di medan perang, walaupun perang ini akhirnya dimenangkan dan banyak senopati yang bangga dengan kemenangan itu tetapi kemenangan itu harus dibayar dengan mahal. Pertempuran di Gawok ini menimbulkan banyak korban di pihak Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro kemudian mendirikan markas baru di Pengasih daerah di sebelah barat Yogyakarta. Sementara itu pada awal tahun 1827 Jenderal Hendrik Markus de Kock mulai mengorganisir strateginya. Pekerjaan rumah pertama bagi de Kock adalah membereskan Diponegoro. Langkah pertama de Kock adalah memberikan uang sebesar 500 ringgit bagi pengikut Diponegoro yang bersedia menyerah kepada Belanda dan hadiah sebesar 20.000 ringgit bagi siapa yang bisa menangkap Diponegoro hidup atau mati ditambah dengan gelar sebagai pangeran, sebidang tanah yang luas dan gaji 10 ringgit per bulan. Tetapi hampir tidak ada yang tertarik mengikuti sayembara De Kock ini karena masih banyak orang yang cinta pada Diponegoro. Sementara itu kekuatan Diponegoro semakin kuat saja, wilayah pergerakannya makin luas dan aktivitas pasukannya seperti sabotase, teror dan penyergapan mulai meningkat di daerah Surakarta, Yogyakarta dan Banyumas.

Sementara itu, di Rembang, pasukan Diponegoro pimpinan Tumenggung Ario Surodilogo bertempur dengan Belanda. Pertempuran ini kemudian berlarut-larut dan melebar sampai ke Bojonegoro (Jawa Timur). Pertempuran ini tidak ada yang menang dan kalah, tetapi korban di pihak Diponegoro sangat besar karena Surodilogo memakai strategi perang frontal.

Pada pertengahan tahun 1827 De Kock mulai melaksanakan suatu strategi yang brilian untuk mengalahkan Diponegoro. Siasat ini disebut Benteng Stelsel. Pada pokoknya taktik ini adalah membangun benteng-benteng secara terkonsentrasi dan acak, kemudian antara benteng yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan jalan-jalan besar yang memudahkan mengadakan patroli (patroli itu harus berhenti pada titik-titik tertentu dan kemudian melakukan pelebaran front ke samping dengan penembakan meriam serta serangan infantri dengan bayonet), lalu pada jam-jam tertentu benteng-benteng itu harus menembakkan meriam secara acak ke tengah hutan sehingga membuat Diponegoro seolah-olah terkepung. Strategi brilian ini memakan biaya yang besar karena perlu dibuat benteng-benteng baru, menambah jumlah pasukan Kontra Gerilya yang harus melakukan patroli di jalan-jalan yang menghubungkan benteng-benteng tersebut dan juga menambah jumlah meriam-meriam.

Belanda kemudian mendirikan benteng-benteng mulai dari benteng kayu sampai benteng batu dan beton yang kokoh. Benteng-benteng itu tersebar mulai dari Citanduy di Jawa Barat sampai ke Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Benteng-benteng itu berjumlah 161 buah dan didirikan di daerah-daerah penghasil padi. Setiap benteng diperkuat oleh 300 prajurit infantri, 20 meriam dengan 40 operator.

Patroli-patroli terus diadakan di jalan yang menghubungkan benteng yang satu dengan yang lain. Tiap patroli berkekuatan 75 infantri dilengkapi 1 meriam dan 15 prajurit berkuda.

Strategi ini segera diketahui oleh pasukan Diponegoro, maka beliau pun menjalankan strategi yaitu menyerang benteng-benteng yang belum selesai dibangun. Karena menyerang benteng yang sudah jadi sangatlah susah. Tetapi De Kock tidak kalah cerdik. Dia perintahkan pasukan Yogyakarta dan Surakarta untuk ikut mengawal proyek-proyek pembangunan benteng itu, sehingga menyulitkan pasukan Diponegoro. Dalam usaha menyerang proyek pembangunan benteng di Tegalwaru, Grogol, Pasar Gede, Bligo, Naggulan, Tegal Waru dan Sentolo banyak korban jatuh di pihak Diponegoro.

Setelah 161 benteng didirikan, maka De Kock yakin front Diponegoro sudah dapat dipersempit. Untuk memperkuat kepungan maka didirikan benteng baru di Bantul, Kanigoro, Minggir, Tegalwaru (hanya diperkuat), Pulawatu, Kejiwan, Telagapinon, Damalaya, Kemulaka, Pasar Gede (diperkuat), Jatinom, dan Delanggu.

Untuk lebih dekat dengan front, pada awal tahun 1828 Jenderal De Kock memindahkan markasnya ke Magelang. Mengetahui hal ini Diponegoro segera merencanakan menyerang Magelang. Pasukan diperintahkan menyerang benteng Belanda di Bukit Menoreh. Tetapi karena takut kehilangan banyak pasukan, Diponegoro mengganti taktik, benteng tidak jadi diserang tetapi hanya diputari. Pasukan Diponegoro memutari sebelah Barat bukit, menyeberangi jalan Mergoyoso antara Bagelen dan, Purworejo dan Salaman kemudian sampai di Kajoran. Gerakan tak terduga ini membuat Magelang terancam dari Barat. Tetapi serangan ke Magelang ini dibatalkan karena tidak mungkin mengadakan serangan gerilya ke Magelang yang dijaga ketat, sedangkan jika nekat melakukan serangan frontal dikhawatirkan akan jatuh korban besar.

Stretegi Benteng Stelsel ini membuahkan hasil. Kepungan dari de Kock yang semakin rapat membuat pasukan Diponegoro menderita sehingga banyak yang akhirnya menyerah.

Pasca pertempuran di Gawok, Kyai Mojo banyak dijauhi oleh para senopati. Hal ini yang kemudian menyebabkan Kyai Mojo lebih banyak berdiam diri. Pada Juli 1828, Kyai Mojo meminta ijin kepada Diponegoro untuk kembali ke daerah Pajang dengan tujuan untuk merekrut barisan santri baru untuk memperkuat pasukan Diponegoro (walaupun alasan sebenarnya adalah karena ia dijauhi oleh hampir semua senopati).

Dalam perjalanannya ke Pajang ini Kyai Mojo dan pasukannya telah dikuntit oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letkol. Koeps. Sebelum masuk Pajang, Koeps dan pasukannya segera menggempur Kyai Mojo dan pasukannya. Kyai Mojo terdesak dan minta berunding. Pada tanggal 31 Oktober 1828 Kyai Mojo dibawa ke Mlangi untuk berunding dengan Belanda tetapi perundingan ini gagal. Pada tanggal 5 November 1828 diadakan perundingan di tempat yang sama tetapi gagal lagi. Akhirnya Belanda sadar Kyai Mojo hanya mengulur waktu, kemudian kyai itu melanjutkan perjalanan lagi ke Pajang meneruskan gerilya. Tetapi sampai di Pajang rombongan pasukan itu dicegat oleh pasukan Belanda pimpinan Letkol. Le Bron de Vessela. Kyai Mojo berhasil disergap dan dibawa ke Klaten. Senjata pasukan Kyai Mojo dilucuti (ada sekitar 50 pucuk senapan dan 300 tombak). Kyai Mojo kemudian dibawa ke Surakarta, kemudian digiring ke Salatiga lalu ke Semarang dan diangkut dengan kapal ke Batavia.

Walau bagaimanapun tertangkapnya Kyai Mojo ini merupakan pukulan berat bagi Diponegoro. Tertangkapnya Kyai Mojo juga menjadi bukti betapa kini pasukannya tidak lagi bebas bergerak seperti dulu lagi.

Sementara itu Sentot beserta pasukan Pinilih nya melakukan serangan ke Kali Progo untuk menerobos kepungan Benteng Stelsel Belanda. Sentot berhasil menyeberangi Sungai Progo. Sentot melanjutkan menyerang Pengasih dan Wates. Di belakang Sentot pasukan dipimpin oleh Sumonegoro menyeberangi Sumgai Progo dan menyerang tangsi Belanda di Grogol. Tetapi sayang serangan brilian dari Sentot dan Sumonegoro ini tidak mendapat dukungan logistik yang memadai sehingga sia-sia dan terpaksa mereka harus mundur.

De Kock kemudian memerintahkan pasukannya untuk menguasai daerah-daerah subur dan mempertahankannya habis-habisan sehingga diharapkan Diponegoro hanya menguasai daerah-daerah tandus yang dapat membahayakan jalur logistiknya. De Kock juga mengamankan daerah-daerah aliran sungai.

Untuk mengamankan jalur pangan tentaranya Diponegoro melakukan ofensif besar-besaran di Sungai Progo. Tetapi gagal karena kuat dan teraturnya pertahanan Belanda.

Di sisi lain, pasukan Belanda makin besar jumlahnya karena banyak pasukan dari laur Jawa yang masuk.

Pada tanggal 20 Desember 1828, Sentot dan pasukan Pinilih nya kembali melakukan gerakan ofensif untuk menyerang benteng Belanda di Naggulan.Dalam serangan ini benteng itu jatuh dan seorang kapten Belanda bernama Van Langen tewas. Belanda kemudian meyadari bahwa Sentot ini berbahaya dan tidak bisa diremehkan. Belanda kemudian mengirim surat kepada Sentot untuk menyerah dan dijanjikan akan diberi hadiah yang melimpah. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Sentot.

Terinspirasi kemenangan Sentot maka Diponegoro bermaksud untuk merebut Bagelen. Serangan ini akan mengikutsertakan pasukan yang dipimpin oleh Diponegoro sendiri, Gusti Bei, Raden Basah Prawirodirjo, Basyah Gondokusumo, Basah Ngadul Muhyi dan Basah Prawirokusumo serta mengikutertakan prajurit Bulkiya, Surogomo, Suronoto, dan Mantrijero. Dalam serangan frontal yang besar ini lagi-lagi jatuh banyak korban dan Bagelen gagal ditaklukan. Dan sebaliknya Belanda menyiapkan ofensif balasan.

Raden Basah Prawirodirjo yang sedang dalam perjalanan mundur disergap oleh Belanda di Pengasih dan ia dapat melarikan diri meskipun pasukannya dibinasakan. Sementara itu Pangeran Notoprojo sedang dalam perjalanan mundur ke sebelah timur diserang oleh Belanda di Selatan Yogyakarta, Notoprojo dan pasukannya mundur ke timur tetapi di sana sudah menunggu pasukan gabungan Belanda-Surakarta-Mangkunegaran. Akhirnya Notoprojo dan 850 pasukannya menyerah.

Kekalahan di Kedu ini berdampak memudarnya kepercayaan diri para senopati perang di pihak Diponegoro. Pangeran Suryo Mataram dan Pangeran Aryo Prangwadono menyerahkan diri pada Belanda. Kemudian Nyi Ageng Serang menyatakan berhenti berperang karena usianya yang sudah tua dan memilih untuk berdamai dengan Belanda.


Akhir Perang Diponegoro

Tahun 1829 merupakan tahun kemunduran bagi Diponegoro. Di tahun itu pula Diponegoro sudah tidak pernah mengadakan ofensif lagi dan justru inisiatif serangan beralih ke tangan Belanda. Pengikut Diponegoro banyak yang menyerah kepada Belanda karena sudah tidak kuat dengan cobaan dan perang gerilya.

Sementara itu Pangeran Diponegoro dapat menembus kepungan Belanda di Pengasih dan melarikan diri ke Kedu. Daerah Kedu adalah daerah yang bergunung-gunung sehingga memudahkan Diponegoro melakukan gerilya dan menyusahkan Belanda dalam bergerak. Tetapi de Kock segera membangun benteng-benteng untuk mengepung daerah Kedu sehingga gerakan Diponegoro dapat dibatasi.

Pengepungan atas Kedu ini membuat Diponegoro dan pengikutnya hidup dalam keprihatinan yang luar biasa walaupun masih tetap melanjutkan perang gerilya.

Banyak pemimpin perang Diponegoro yang menyerahkan diri pada Belanda.

Sementara pada tahun 1829 pula terjadi pergantian kepemimpinan di Hidia-Belanda. Komisaris Gubernur Jenderal Du Bus yang menjalankan pemerintahan sejak Van Der Capellen mengundurkan diri pada tahun 1826 digantikan oleh Johaness Van den Bosch. Di tubuh militer sendiri terjadi rotasi pergantian, De Kock diangkat sebagai panglima militer untuk seluruh Hindia-Belanda, dan sebagai panglima tentara Belanda di Jawa daingkat Mayor Jenderal Benjamin Bisschof. Tetapi sebelum menunaikan tugasnya Bisschof meninggal karena sakit. Kemudian kepada gubernur jenderal De Kock meminta agar tetap dipercaya memimpin langsung penumpasan terhadap Diponegoro.

Di tahun 1829, Diponegoro kembali pada taktik perang gerilya. Berkat perubahan taktik ini Diponegoro mampu kembali menguasai Bagelen, sebagian sungai progo, sebagian sungai bogowonto, dan Banyumas. Ini semua berkat taktik gerilya Gusti Bei yang brilian.

De Kock membalas gerakan Pasukan Diponegoro ini dengan sebuah serangan cepat dan kuat. Segera Bagelen direbut, Sungai Bogowonto diseberangi dari Timur ke Barat. Selanjutnya serangan dilanjutkan ke Ledok dan Karangkobar. Dua daerah itu dipertahankan oleh Imam Musbah. Dalam serangan ini Belanda memakai pasukan pribumi dari Sulawesi Utara, Maluku, Bali dan pasukan Belanda sendiri.

Kemudian pasukan Belanda bergerak ke Boyolali-Kanigoro. Mereka lalu bergabung dengan pasukan Kasunanan Surakarta. Kedua pasukan ini segera menyerang pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Adipati Urawan dan Pangeran Sumonegoro. Pasukan Diponegoro berhasil didesak, sementara itu Adipati Danu memimpin 200 orang pasukan Diponegoro bermaksud membantu pasukan Adipati Urawan dan Pangeran Sumonegoro. Pasukan Bulkiya pimpinan Haji Usman juga ikut serta bergerak untuk memberi bantuan. Tidak ketinggalan pula Gusti Basah (putra Diponegoro) bersama pasukannya turut bergerak memberi bantuan.

Di lain pihak, pasukan bantuan Belanda dari Magelang turut bergerak memberi bantuan. Sementara dari Yogyakarta bergerak pasukan Yogyakarta dan Belanda, dari Surakarta juga bergerak Legioen Mangkunegaran. Pasukan Belanda berjumlah 3000 orang sedangkan gabungan pasukan Diponegoro berjumlah 5000 orang bertemu di Desa Genjuran. Meletuslah pertempuran sengit. Walaupun Belanda tidak bisa dikatakan menang tetapi lebih banyak prajurit Diponegoro tewas dalam pertempuran ini, bahkan komandan pasukan Bulkiya yaitu Haji Usman tewas.


Pada tanggal 30 April 1829 terjadi pertempuran di RawaGenda. Basah Prawirokusumo terkena pecahan meriam dan lumpuh dalam serangan Belanda itu. Sementara Tumenggung Banyak Wedi menyerah pada pimpinan pasukan Belanda (Kapten Busseheus).

Pada tanggal 17 Juli 1829, markas Gusti Bei di Desa Geger diserang. Gudang dan pabrik amunisi pasukan Diponegoro turut diratakan. Gusti Bei yang terluka melarikan diri sementara Raden Joyonegoro meneruskan perlawanan sampai dia mati. Dengan direbutnya Geger maka suply amunisi pasukan Diponegoro sangat terganggu.

Pada 30 Juli 1829, Letkol. Sollevipu memimpin pasukan menyerang sebuah desa yang dicurigai sebagai markas pasukan Diponegoro. Dalam sergapan itu berhasil ditangkap Raden Hasa Mahmud dan Pangeran Anom Diponegoro (putra tertua Pangeran Diponegoro). Belanda mengancam akan membunuh Anom Diponegoro jika Diponegoro tidak menyerah. Tetapi ancaman ini tidak digubris. Akhirnya Anom Diponegoro tidak dibunuh.

Tanggal 31 Juli, istri Pangeran Mangkubumi, putranya Raden Mas Wiryokusumo, Raden Mas Wiryoatmojo dan Raden Mas Surdi menyerah pada Belanda. Belanda kemudian meminta kepada Pangeran Mangkubumi untuk menyerah dan memberitahukan letak persembunyian keluarga Pangeran Diponegoro dan keluarga para panglima perlawanan yang lain, tetapi tuntutan itu tidak dijawab. Seperti kita ketahui bahwa Pangeran Mangkubumi adalah pimpinan pasukan Jogokaryo yang bertanggung jawab atas keamanan keluarga Pangeran Diponegoro dan keluarga para panglima perang lain.

Pada bulan September 1829, Tumenggung Wonorejo, Tumenggung Wiryodirjo dan ratusan pengikutnya menyerah pada Belanda menyusul kemudian Tumenggung Surodeksono, Pangeran Pakuningrat beserta pengikut-pengikutnya. Dan Raden Ayu Anom (istri kedua Pangeran Mangkubumi) juga menyerah beserta 50 orang pengikutnya.

Pada tanggal 28 September 1829, Pangeran Mangkubumi akhirnya menyerah setelah keluarga-keluarga panglima perang yang dilindunginya dikembalikan pada Pangeran Diponegoro.

Pada tanggal 30 September 1829, pukulan kembali terjadi. Gusti Bei dan kedua putranya Joyokusumo dan Harnokusumo disergap oleh Belanda di Desa Sangir dan mereka semua gugur.

Satu-satunya senopati perang Pangeran Diponegoro yang tak terkalahkan hanyalah Sentot. Tetapi walaupun masih ditakuti kondisi pasukan Sentot sendiri mengkhawatirkan karena kekurangan bahan makanan dan terputus jalur logistiknya. Akhirnya dengan perantaraan Bupati Madiun, Belanda melakukan perundingan dengan Sentot. Sentot bersedia menyerah dengan syarat sebagai berikut :

  • Diberi uang sebesar 10.000 Ringgit

  • Tetap memimpin pasukan Pinilih nya

  • Diberi 500 pucuk senapan.

  • Tetap memeluk agama Islam

  • Sentot dan pasukannya tetap diijinkan memakai surban

Belanda memenuhi permintaan Sentot itu. Akhirnya pada tanggal 17 Oktober 1829 Sentot menyerah pada Belanda di Imogiri. Pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot dan pasukannya masuk ke Yogyakarta, ketika melewati jalan-jalan kota Yogyakarta banyak rakyat duduk bersimpuh dan menyembah sebagai tanda penghormatannya. Sentot kemudian menghadap Sultan Hamengkubuwono V di kraton.

Oleh Belanda Sentot diberi pangkat Mayoor Cavalerie dengan gaji 100 ringgit per bulan.


Akhir Perang

Akhirnya pada Bulan Ramadhan 1830 M Belanda menjalankan siasatnya. De Kock mengundang Diponegoro untuk melakukan perundingan perdamaian di kantor Residen Kedu di Magelang. Diponegoro yang saat itu masih berpuasa dan pantang berpikiran buruk menyanggupi undangan itu. Berangkat ke Magelang Diponegoro hanya dikawal oleh 25 orang berkuda.

Sesampainya di Magelang Diponegoro menemui de Kock dan diadakan perundingan. Pada intinya Diponegoro menuntut sebuah wilayah setingkat kadipaten dan dirinya diangkat sebagai raja adipati (seperti Manngkunegoro di Solo), selain itu ia juga meminta memecat Paku Alam. Perundingan tidak mencapai kata sepakat, dan Diponegoro bermaksud keluar dan kembali ke markasnya. Sebelum keluar dari kantor Residen Kedu Diponegoro ditangkap dan dimasukan ke dalam kereta kuda. Pengikut Diponegoro berusaha untuk membebaskan tetapi dicegah oleh Pangeran Diponegoro yang mengingatkan bahwa saat itu adalah bulan puasa sehingga pantang untuk membunuh atau berperang pada bulan itu. Akhirnya 25 pengikut Diponegoro menyerah sambil menangis.

Diponegoro dibawa ke Semarang kemudian diangkut dengan kapal ke Batavia dan dihadapkan pada Gubernur Jenderal Van den Bosch. Kemudian dibawa ke Manado. Di sana Diponegoro dan pengiringnya hidup dengan uang 600 gulden/bulan.Setelah beberapa lama, beliau dipindahkan ke Benteng Fort Rotterdam, Makassar sampai beliau wafat pada 8 Januari 1855.

Setelah berakhirnya perlawanan Diponegoro Belanda kemudian mengetahui bahwa Sri Susuhunan Paku Buwono VI telah menemui Diponegoro saat berada di Gawok dan memberikan uang sebesar 25.000 ringgit kepada Diponegoro akhirnya sebagai hukuman maka Paku Buwono VI harus menyerahkan beberapa wilayahnya di daerah Salatiga. Susuhunan Surakarta itu kecewa karena Belanda dianggap tidak adil padahal banyak juga prajurit Surakarta yang mati karena membantu Belanda melawan Diponegoro. Kemudian Susuhunan merencanakan pemberontakan, tetapi tercium oleh Belanda. Ketika Paku Buwono VI sedang melakukan ziarah ke Imogiri dia ditangkap dan dibuang ke Ambon (1830) sampai beliau wafat pada tahun 1849.

Sementara itu sebagai jaminan agar pemberontakan Diponegoro tidak terulang lagi Kraton Yogyakarta harus menyerahkan daerah Bagelen, Banyumas, dan Kedu kepada Belanda. Sri Sultan Hamengkubuwono V dan penerus-penerusnya diangkat sebagai Mayor Jenderal Tituler Kerajaan Belanda dan tetap memegang kekuasaan atas Kraton dengan pengawasan seorang Gubernur Belanda yang berkedudukan di dekat Kraton. Sementara pasukan Kraton dikurangi jumlahnya dan tidak boleh lebih dari 500 orang.

Setelah Paku Buwono VI ditangkap, paman dari Paku Buwono VI yaitu Gusti Raden Mas Maliki Salikin diangkat sebagai Paku Buwono VII dan diangkat sebagai Jenderal Mayor Tituler Kerajaan Belanda dan dalam menyelenggarakan pemerintahan diawasi oleh Residen Belanda yang juga berkedudukan di dekat Kraton Surakarta dekat degan benteng Vrestensburg di depan kraton. Prajurit Kraton Surakarta juga dikurangi.

Selain itu untuk mencegah munculnya kembali perlawanan dari Diponegoro-Diponegoro baru, kebijakan-kebijakan Belanda di Yogyakarta dan Surakarta diperlunak, kedua kerajaan-kerajaan itu diberi status Vorstenlanden (daerah istimewa) di mana kedua daerah itu menjadi daerah bebas pajak. Kraton diberi hak untuk mengurusi pajak dan raja dari Surakarta dan Yogyakarta digaji oleh pemerintah Belanda, sementara birokrat-birokrat kraton akan dibayar oleh kraton sendiri.

Karena itulah Surakarta dan Yogyakarta tumbuh menjadi sentra ekonomi industri yang tumbuh pesat walaupun pada prakteknya Belanda tetap mendominasi ekonomi dan politik di Surakarta dan Yogyakarta.

Belanda kehilangan 8.000 prajurit berkebangsaan Belanda, 7.000 orang berkebangsaan Indonesia, kerugian di pihak rakyat sipil adalah 200.000 orang mati dan kerugian materiil sebesar 20 juta gulden yang menyebabkan kas pemerintah Belanda semakin defisit.



(Tony Prastono)

7 komentar:

  1. wah artikelna bgus bgt...perlu aq pelajari lg nih kayakna
    Knapa g dposting dwikipedia aj mas?

    BalasHapus
  2. saya lagi benar2 sengsara gak punya uang gak punya
    kerjaan.kira2 ada gak yah yang bisa bantu.
    ada uang sedikit ikutan program internet malah gak ada ujungnya semua tipu2 gawat dimana2 tukang tipu ada.atau ada gak yang bisa dan mau narik uang dari keraton balekambang?mburhan67@yahoo.com
    bantulah saya!

    BalasHapus
  3. bagus mas....
    Saya senang dg tulisannya...wujud kecintaan pada perjuangan nusantara.....
    Smoga Indonesia bisa lebih maju dengan mengenal para tokoh dan perjuangan warga nya.....

    herman
    Salam kenal dari Hiroshima, jepang....

    BalasHapus
  4. bagus tulisannya.... memberikan tambahan pengetahuan sejarah yang tak diajarkan di sekolah.... di lain sisi agak tambah jengkel juga dengan Belanda... tapi itu kan masa lalu ya.... ?

    BalasHapus
  5. maaf mas prastono
    dari cerita di atas ,terkesan Sri sultan hamengkubuwono tidak pernah melakukan perlawanan terhadap belanda ....? apa kah benar seperti itu ...? maaf jika saya salah ....!

    BalasHapus